Senin, 29 Oktober 2012

Mr.pOx_pOx

Mr.pOx_pOx


Cerita Sex | Ngentot dengan Ibu Guru Yang Nakal

Posted: 29 Oct 2012 01:11 PM PDT



Rina adalah seorang guru sejarah di smu. Umurnya 30 tahun, cerai tanpa anak. Kata orang dia mirip Demi Moore di film Striptease. Tinggi 170, 50 kg, dan 36B. Semua murid-muridnya, terutama yang laki-laki pengin banget melihat tubuh polosnya.

mrpoxpox1140839.jpg


Suatu hari Rina terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si Anto harus mengulang karena ia kedapatan menyontek di kelas. Anto juga terkenal karena kekekaran tubuhnya, maklum dia sudah sejak SD bergulat dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga kebugaran tubuhnya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga diam-diam naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu 'pelajaran' tambahan di Minggu siang ini.

"Sudah selesai Anto?", Rina masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang diberikannya.
"Hampir bu"
"Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang.."
"Iya.."
"Bu Rina, Saya sudah selesai", Anto masuk ke ruang tengah sambil membawapekerjaannya.
"Ibu dimana?"
"Ada di kamar.., Anto sebentar ya", Rina berusaha membetulkan t-shirtnya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.
Begitu ia keluar, mata Anto nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya.

"Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa.."
Muka Anto merah karena malu, karena Rina tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.
"Bagus bagus…, Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..?"
"Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar.."
"oo…, begitu to?"
"Anto kamu mau menolong saya?", Rina merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya.
"Apa Ibu?", tubuh Anto bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Rina yang satu mengusap-uasap daerah 'vital' nya.
"Tolong Ibu ya…, dan janji jangan bocorkan pada siapa–siapa".
"Tapi tapi…, Saya".
"Kenapa?, oo…, kamu masih perawan ya?".
Muka Anto langsung saja merah mendengar perkataan Rina"Iya"
"Nggak apa-apa", Ibu bimbing ya.

Rina kemudian duduk di pangkuan Anto. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan, Rina yang agresif karena haus akan kehangatan dan Anto yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa merasakan puting susu Rina yang mengeras. Lidah Rina menjelajahi mulut Anto, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.
Setelah puas, Rina kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini.

"Lepaskan pakaiannmu Anto", Rina berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya. "Ahh cepat Anto", Rina mendesah tidak sabar.
Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pengetahuannya tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja. "Anto…, letakkan tanganmu di dada Ibu",
Dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rina yang montok itu. "Oohh…, enakk…, begitu caranya…, remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." Dengan semangat Anto melakukan apa yang gurunya katakan. "Ibu…, Boleh saya hisap susu Ibu?".

Rina tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk, "Boleh…, lakukan apa yang kamu suka". Tubuh Rina menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama suaminya.

"Oohh…, jilat terus sayang…, ohh", Tangan Rina mendekap erat kepala Anto ke payudaranya.

Anto semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Anto makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya tersebut.

"mm…, nakal kamu", Rina tersenyum merasakan tingkah muridnya itu.
"Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu".
Anto menurut saja. Duduk diantara kaki Rina yang membuka lebar. Rina kemudian menyandarkan punggungya pada dinding di belakangnya.
"Coba kamu rasakan", ia membimbing telunjuk Anto memasuki vaginanya.
"Hangat Bu.."
Bisa kamu rasakan ada semacam pentil…?"
"Iya.."
"Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok"Pelan-pelan jari Anto mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu.
"Terus…, oohh…, ya…, gosok…, gosok", Rina mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Anto.
"Kalo diginiin nikmat ya Bu?", Anto tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya.
"Oohh…, Antoo…, mm", tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Tangan Anto semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol.
"Ooaahh…, Anntoo", Tangan Rina mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya.
"Hmm…, kamu lihai Anto…, Sekarang…, coba kamu berbaring".
Anto menurut saja. Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya.
"Wah…, wahh.., besar sekali", tangan Rina segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.
Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Rina. Ia segera menjilati penis muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya keras-keras, sehingga Anto merintih keenakan.


mrpoxpox1140859.jpg

mrpoxpox1140929.jpg


"Ahh…, enakk…,enakk", Anto tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya makin ke dalam kuluman Rina. Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Rina.
"oohh Ibu…, Ibbuu"
Muncratlah cairan mani Anto di dalam mulut Rina, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.

mrpoxpox1140917.jpg


"Hmm…, manis rasanya Anto", Rina masih tetap menjilati penis muridnya yang masih tegak.
"Sebentar ya aku mau minum dulu".
Ketika Rina sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang.
"Anto…, biar Ibu minum dulu".
"Tidak…, nikmati saja ini", Anto yang masih tegang berat mendorong Rina ke kulkas.
Gelas yang dipegang rina jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Rina kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.
"Ibu…, sekarang!"
"Ahhkk", Rina berteriak, saat Anto menyodokkan penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, pemuda yang tadinya pasif berubah menjadi liar.
"Antoo…, enakk…, ohh…, ohh". Tubuh Rina bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan Anto satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Dan penisnya yang keras melumat liang vaginanya.
"Ibu menikmati ini khan", bisik Anto di telinganya
"Ahh…, hh", Rina hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras dari belakang.
"Jawab…, Ibu", dengan keras Anto mengulangi sodokannya.
"Ahh…,iyaa"
"Anto…, Anto jangann…, di dal.. La" belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rina telah merasakan cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan keras pinggulnya.
"Uuhgghh", penis Anto yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rina."Ahh".
Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan.
Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.
Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.
"Bu Rina salam dari Anto", Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.
"Terima kasih, boleh saya masuk", Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.
"Boleh…, boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Anto."
Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.
"Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan..", sambil duduk di balik kemudi.
"Ada sedikit sih kalau Ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto", Reza tersenyum penuh kemenangan.
"Apa hubungannya?", Keringat mulai menetes di dahi Rina.
"Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas".
Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.
Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka
"Reza! Kenapa kamu ngikuutin saya!", Rina agak jengkel dengan muridnya ini.
"Boleh saya masuk?".
"Tidak!".
"Apa guru-guru perlu tahu rahasiamu?".
"!!"dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.
"Enak ya rumahnya, Bu", dengan santainya ia duduk di dekat TV. "Pantas aja Anto senang di sini".
"Apa hubunganmu dengan Anto?, Itu urusan kami berdua", dengan ketus Rina bertanya.
"Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua".
"Jadi artinya", Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau?", Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.
Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin.
Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia menjawab, Reza telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa saat penisnya meyembul dan telah berada di hadapannya.
"Bagaimana Bu, lebih besar dari Anto khan?".
Reza ternyata lebih agresif dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan penisnya ke mulut Rina.
"Mmpfpphh".
"Ahh yaa…, memang Ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja Bu…, nikmat kok"
Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati penis yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala penis pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.
"Aduhh…, nikmat sekali Bu oohh", Reza menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Rina merasakan penis yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.
"oohh…, Ibu enakk…, enakk…, aahh".
Cairan mani Reza muncrat di mulut Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya penis yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.
"Sudahh…, sudah selesai kamu bisa pulang", Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika penis yang besar itu masuk ke vaginanya.
"Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya."
"Apa! beraninya kamu memerintah!", Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.
Setelah ia di dalam, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya.
"Sini saya teruskan", ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan penis pemuda itu diantara belahan pantatnya.
"Gilaa…, besar amat", pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos. Penis Reza digosok-gosokkan di antara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puting susu Rina, erangan kenikmatan pun keluar.
"mm oohh".
Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke vagina Rina.
"Reza…, aahh…, aahh", Tubuh Rina menegang saat pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Reza.
"Enak Bu?", Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.
Rina hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di lebarkan.
"Kata Anto ini posisi yang disukai Ibu"
"Ahhkk…, hmm…, hmmpp", Rina menjerit, saat Reza dengan keras menghunjamkan penisnya ke liang vaginanya dari belakang."
"Ugghh…, innii…, innii", Reza medengus penuh gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Rina. Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.
"Adduuhh…, teruss.., teruss Rezaa…, oohh", Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan penisnya.
"Oohh Rina…, Rinnaa".
Rina segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras. Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.
Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Rina, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya itu.
"mm capek…, mm", bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan clitorisnya.
"Rezz aahh", Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.
"Bu…, balik…, Reza pengin nih"
"Nakal kamu ahh", dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan penis Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya dengan keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang
"Adduuhh…, owwmm", Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang vaginannya yang telah licin melebar karena desakan penis Reza.
"Bu Rina nikmat lho vagina Ibu…, ketat", Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"mm…, aahh…, ahh…, ahhkk", Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerakan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasan muridnya itu.


mrpoxpox1140947.jpg


"Ayoo…, aahh.., ahh… Mm.., buat Ibu keluuaa.. Rr lagi…". Gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.
Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki penisnya dengan membelakangi dirinya. Reza kini telentang di tempat tidur yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang mengering.
"Ooww..", Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Rina yang makin becek. "Ayoo…, makin dalam dalamm".
"Ahh.., aahh…, aahh..", Rezapun mulai berteriak-teriak.
"Mau kelluuaarr"
Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang vaginanya. Rina kemudian ambruk menindih tubuh Reza yang basah oleh keringat. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka.
"Bu Rina…, sungguh luar biasa, Coba kalau Anto ada disini sekarang".
"mm memangnya kamu mau apa", Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap puting Reza.
"Kita bisa main bertiga, pasti lebih nikmat.."
Rina tidak bisa menjawab komentar Reza, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.
Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Rina harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di Kanwil. Karenanya ia memanggil Anto untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya. Ketika seputar Indonesia mulai ditayangkan, Anto muncul. Ia langsung dipersilakan duduk.
"Bu, Anto kangen lho".
"Iya deh…, nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya. Jadi…, jadi…, Ibu ingin malam ini malam terakhir kita", mata Rina berkaca-kaca ketika mengucapkan itu.
"A?a,?A|A?a,?A|A?a,?A|A?a,?A|..", Anto tidak bisa menjawab. Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Rina merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu.
"Tapi Anto masih boleh berkirim surat kan?".
Rina bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah, "Iya…, boleh…, boleh".
"Minum dulu Nto, ada es teh di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa", Rina mengerling nakal ke muridnya sambil beranjak ke kamar. Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu saja menyetel VCD 'Kamasutra-nya Penthouse". Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton TV.
Diluar Anto meminum es teh yang disediakan Rina dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai rencana yang telah disusun rapi. Lalu Anto menyusul Rina ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat gurunya tengkurap menonton VCD dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk tubuhnya jelas terlihat. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene.
"Ganti pakaian itu Nto..", Rina menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya.
Ketika Anto sedang mencopot celananya Rina sempat melihat penis pemuda itu menyembul di balik CD GT Man-nya. Setelah selesai Anto juga tengkurap di samping Rina.
"Sudah liat film ini belum? Bagus lho untuk info posisi-posisi ngesex".
"Belum tuh…", Mata Anto tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas-remas payudara partnernya.
"mm…, itu posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil".
"Thanx..", Anto kemudian mengecup pipi gurunya.
Adegan demi adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Rina kini tengkurap dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun. Demikian pula Anto. Anto kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Rina dengan lembut, kemudian disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Anto kemudian menciumi tengkuk Rina, dijilatinya rambut-rambut halus yang tumbuh lebat.
"aahh…"
Setelah puas, Anto kemudian memberi isyarat pada Rina agar duduk di pangkuannya.
"Bu, biar Anto yang puasin ibu malam ini…", Bisik Anto di telinga Rina. Rina yang telah duduk di pangkuan Anto pasrah saja saat kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya yang liat. Kemudian ia menjerit lirih saat puting susunya mendapat remasan.
"Akhh…", Rina memejamkan matanya.
"Anto…, jilatin vagina ibu…"
Anto kemudian merebahkan Rina, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan perlahan ia mulai menjilati vagina gurunya. Bau khas dari vagina yang telah basah oleh gairah itu membuat Anto kian bernafsu.
"oohh…, teruss…, teruuss…", Rina bergetar merasakan kenikmatan itu. Tangannya membimbing tangan Anto dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda. "Jilatin…, pentil itu…, oohohh", Bagai dikomando Anto menjilati pentil clitoris Rina, dengan penuh semangat.
"AduuhhA?a,?A|.. OohhA?a,?A|oohhA?a,?A|hh.. HhA?a,?A|.."
"Anto…, massuukk".
Kaki Rina kemudian disampirkannya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya penisnya ke vagina Rina yang becek.
"mm…", Rina menggigit bibirnya. Meskipun lubang vaginanya telah licin, namun penis yang besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos masuk.
"Uuhh…, masih susah juga ya Bu…", Anto sambil meringis memaju mundurkan penisnya. Ia merasakan penisnya bagai diremas-remas oleh tangan yang sangat halus saat di dalam. Tangan Rina mempermainkan puting Anto. Dengan gemas dicubitnya hingga Anto berteriak.
"Uhh…, nakal, Ini balasannya!", sodokan Anto makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan penisnya.
"aa…".
Tiba-tiba pintu kamar tebuka! Spontan Rina terkejut, tapi tidak bagi Anto. Reza sudah berdiri di muka pintu, senjatanya telah tegak berdiri. "mm…, hot juga permainan Ibu dengan Dia, boleh saya bergabung?", Reza kemudian berjalan mendekati mereka. Rina yang hendak berdiri ditahan oleh Anto, yang tetap menjaga penisnya di dalam vagina rina.
"Nikmati saja…"
Reza kemudian mengangkangi Rina, penisnya berada tepat di mukanya.
"Isap… Ayoo", sambil memasukkan penisnya. Saat itu pula Anto menghentakkan gerakannya. Saat Rina berteriak, saat itu pula penis Reza masuk.
"Ahh…, nikmat..", Rina merem-melek menghisap-hisap penis muridnya, sementara Anto dengan puas menggarap vaginanya.
"uufff…, jilatin…, jilatt", tangan Reza memegangi kepala Rina, agar semakin dalam saja mengisap penisnya.

Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Anto keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala Rina.
Setelah Anto mengeluarkan penisnya dari vagina Rina, "Berdiri menghadap tembok Bu!"
Rina masih kelelahan. Ia telah orgasme pula saat Anto keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada penis di mulutnya. Saat ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani anto menetes ke lantai.

"mm…, Nto…, liat tuh punya kamu..", seru Reza sambil tertawa. Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Rina. Penisnya tepat berada di antara kedua pantat Rina. "Nih Bu rasakan punya Reza juga ya".

Anto dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang Rina saat ia menyodok-nyodokkan penisnya keluar masuk dengan cepat. Saat Rina merintih-rintih menikmati permainan mereka, Anto merasakan penisnya tegang lagi. Ia tidak tahan melihat pemandangan yang sangat erotik sekali.
Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan rasakan.

"ooww…", Tubuh Rina yang disangga Reza menegang, kemudian lemas. Anto menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati mereka dan menyusup diantara Rina dan tembok. Dipindahkannya tangan Rina ke pundaknya, dan penisnya menggantikan posisi milik Reza. "Anto…", Lagi-lagi Rina mendesah saat penis Anto masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari belakang.
"Ahh.. AhhA?a,?A|. DoronggA?a,?A|doronggA?a,?A|A?a,?A|A?a,?A|A?a,?A|." "aa.. Aa… Aa".
"oohhkk…, kk…, kk..", Rina berteriak keras sekali, saat dorongan Reza sangat keras menekan pinggulnya. penis Anto amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke vagina Rina. Saat itu pula ia merasakan penis yang berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.
Malam itu merupakan malam yang liar bagi ketiga insan yang akan berpisah itu. Malam yang tidak bisa mereka lupakan untuk selamanya.'

Nah Itulah Cerita Sex | Ngentot dengan Ibu Guru Yang Nakal jangan Lupa Tinggalkan komentar anda.

Vidio Bokep Asian 3gp | pake penutup mata

Posted: 29 Oct 2012 06:48 AM PDT



asian-422-3gp.jpg
Dowload pake penutup mata.3gp

490585.jpg
Dowload 490585.3gp

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

cerita dewasa | Service Plus Sex

Posted: 29 Oct 2012 01:58 AM PDT



Aku memenuhi panggilan untuk service computer di kantor pelangganku di daerah perumahan mewah. Karena hari sudah menjelang sore dan hari itu adalah sabtu, maka di kantor itu tidak ada lagi orang kecuali seorang sekretaris yang memang ditugaskan untuk menungguku. Dia mengenalkan diri dengan nama Mariska, dan minta dipanggil dengan Kika saja. Namanya lucu, selucu orangnya yang memang berwajah cantik imut-imut, polos tapi terkesan sensual. Dandanannya sangat sederhana, yaitu dengan blouse hitam pendek dan rok mini abu-abu serta sepatu tinggi terbuka, namun sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Apalagi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan ramping, makin menampakkan keindahan kakinya yang jenjang.

Kika menemaniku sambil mengobrol selama aku bekerja, sehingga kami cepat akrab. Keakraban ini yang membuat sikapnya santai dan cuek dengan duduk seenaknya di pinggir meja computer, sehingga terkadang memancing mataku untuk memandang kemulusan pahanya yang mulus dibalik rok mininya yang super pendek itu. Peniskupun mulai berontak di balik celana, dan cukup membuat konsentrasiku agak buyar. Namun aku berusaha menutupinya dengan mempercepat pekerjaanku.

Setelah selesai kupersilahkan Kika duduk di kursi untuk mencoba komputernya, sementara aku mengambil kursi dan duduk di sampingnya sambil memberi instruksi cara mengeceknya. Cukup sabar dan serius Kika mengecek satu persatu software yang ada sambil mengcopy kembali file-file dari disket backup ke hard disk yang membuatnya cukup berkeringat, apalagi AC di ruangan tersebut sudah mati sejak semua karyawan pulang. Aku kemudian memberanikan diri untuk menawarkan memijat bahunya.

mrpoxpox1102441.jpg


"Kika mau nggak dipijat?", kataku sambil menggeser kursiku ke belakangnya.
"Dari tadi kek nawarinnya …, ayo cepet mulai …", jawab Kika sambil menegakkan badannya.
Kedua tanganku kunaikkan dan mulai memijat pelan bahunya.
"Enak, enak banget deh pijetan Mas …, komputernya kan sudah di service, nah sekarang orangnya donk di service …", canda Kika.

mrpoxpox1102504.jpg


"Iya deh …, mau service plus juga boleh …", kataku lagi.
"Apa tuh service plus? …, kasi contohnya donk …", pinta Kika.
"Wah kesempatan nih", pikirku sambil lebih mendekatkan tubuhkuu ke kursinya. Tanganku mulai kuturunkan ke samping lengannya dan terus menelusuri tangannya, bukan dengan pijatan tapi dengan menggeser halus jari-jari tanganku.

"Ssssh …, geli deh Mas", rintih Kika yang membuatku makin bernafsu. Apalagi dari jarak yang makin dekat tercium harum tubuhnya yang alami itu. Segera kugeser kursiku ke sampingnya, kuangkat tangannya dari mouse dan mulai kudaratkan bibirku di jari-jarinya yang ramping terus bergeser ke atas. Kika nampak pasrah menyerahkan tangannya kuciumi sambil menggeliat pelan. Penisku kembali menegang merasakan kehalusan kulitnya yang putih bersih dan berbulu tipis itu. Kika menggelinjang hebak ketika ciumanku sampai di siku bagian dalam. Belum lagi Kika berhenti mendesah, langsung kupindahkan bibirku ke pipinya dan terus bergeser ke belakang telinganya. Sementara itu, posisiku yang kembali berada di belakangnya memudahkan tanganku bergerilya. Melalui samping badannya, kedua tanganku bergerak perlahan ke depan sehingga menyentuh kedua bukit dadanya.

"Mmh … mmmhh …", rintih Kika ketika jari-jari tanganku kuputar-putar di sekitar buah dadanya yang masih terbungkus lengkap. Dari situ saja bisa kubayangkan bentuk buah dadanya yang indah. Tidak begitu besar tapi terasa kencang, bulat padat dan masih tegak. Sambil lalu kuremas-remas lembut kedua bukitnya, bibirku kuturunkan lagi ke samping lehernya yang jenjang. Kulitnya yang sedikit berkeringat melicinkan jalannya bibir dan hidungku menelusuri hingga ke tengkuknya yang bebas karena rambutnya yang diikat ke belakang. Harum parfum bercampur keringat di kulit tengkuknya yang halus dan berambut tipis itu kuhirup habis-habisan, sehingga membuat Kika makin sering menggeliat kegelian.

"Mas …, udah Mas …, gelii…", kata Kika yang kemudian maju melepaskan diri dariku dan memutar kursinya menghadapku. "Liat nih, sampai merinding semua …", katanya sambil menjulurkan tangannya ke depan.
"Itu belum seberapa, sekarang coba deh kamu duduk di meja". Kika langsung menuruti perintahku duduk di pinggiran meja lalu menyilangkan kakinya. Rok mininya yang pendek itu tersingkap sedikit dan membuatku yang duduk di depannya terpana melihat kemulusan pahanya. Aku mendekatkan diri lalu kutarik satu kakinya dan kutaruh ujung kakinya di atas pahaku.

"Kaki Kika bagus sekali ya…", kataku sambil kuusap lembut lututnya dan terus ke bawah hingga punggung kakinya yang masih bersepatu. Pelan-pelan kulepas sepatunya dana kupegang kakinya dengan tangan kiriku, sementara jari-jari tangan kananku kumainkan di seluruh permukaan kulit kakinya. Tak pernah kulihat kaki seindah ini. Kulitnya halus, putih, dan mulus. Kukunya polos tak dikutek, menampakkan kebersihan jari-jari kakinya.

"Geli ih …, mau diapain sich Mas?", tanya Kika.
"Khan katanya mau diservice plus, musti dari ujung kaki dulu", jawabku sambil mendaratkan bibirku ke punggung kakinya lalu kugeser pelan kearah mata kakinya, terus kucium pelan-pelan ke betis dan pahanya sambil kuelus dengan pelan dan lembut.
"Sshhh …, nikmat sekali Mas …", rintih Kika yang sepertinya baru pertama kali ini diperlakukan seperti ini. Dari rintihan menjadi gelinjangan. Aroma khas dan kelembutan kakinya membuatku semakin bernafsu untuk menjelajahi setiap inci dari kaki Kika.

Tubuh Kika terus menggeliat menahan kenikmatan. Kika tidak lagi perduli posisi rok mininya yang sudah tersingkap jauh ke atas. Yang ada hanyalah pemandangan indah kemulusan paha bagian dalam dan gundukan vaginanya yang masih tertutup segitiga CD hitam semi transparan mini. Kedua tanganku mendahului bibirku yang masih menjalar sepanjang kakinya yang jenjang, dengan mengelus naik turun sepanjang pahanya dan menyentuh gundukan vaginanya.

"Ahh … sshhh", desah Kika kegelian waktu tanganku mulai menyentuh halus CD-nya pas di depan vaginanya menyentuh klitorisnya. Ternyata CD-nya sudah basah merasakan seranganku sejauh ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kutarik CD-nya melalui kedua kakinya. Kika yang sudah sangat terangsang tidak menolah, bahkan ikut meluruskan kaki agar mudah terlepas. Begitu pula waktu kedua kakinya kurenggangkan, Kika hanya pasrah saja. Disitulah aku melihat pemandangan yang sangat menggemaskan dan menggairahkan, vaginanya yang rambutnya dicukur rapi dan labianya yang berwarna merah muda basah sangat menantang. Kepalaku langsung kubenamkan di selangkangannya setelah sebelumnya menyusuri bagian dalam pahanya dengan ciuman dan jilatan lidahku.

mrpoxpox1102532.jpg


"aaahhh … aauuww ..", erang Kika ketika kukecup lembut vaginanya. Aromanya yang khas dan kebersihan vaginanya itu membuatku makin bernafsu. Erangan Kika semakin kencang dan sering ketika lidahku mulai menyusuri seputar bibir vaginanya. Pinggulnya bergoyang kian kemari merasakan kenikmatan, dan sesekali punggungnya melengkung waktu jilatanku mencapai klitorisnya. Tangankupun tidak tinggal diam dengan membuka kancing blouse hitamnya sehingga bukit dadanya yang masih berbalut BH hitam tipis itu menyembul ke atas. Langsung kutangkupkan dan kuraba tanganku di atasnya sambil meremas-remas lembut kedua bukitnya. Kika meronta-ronta merasakan kedua bagian sensitifnya diservice.

"Aku mau keluar Maasss …., aahhh", teriak Kika. Kedua tangannya menjambak rambutku dan menekan kepalaku rapat ke arah selangkangannya dan klitorisnya. Sementara kedua kakinya makin dibuka lebar dengan ujung kakinya mencengkeram kuat ujung-ujung meja. Akupun mengerti kemauannya. Kupercepat jilatan dan hisapan pada clitorisnya, dengan sesekali mengeraskan lidahku yang menusuk-nusuk lubang vagina dan klitorisnya. Tiba-tiba Kika berteriak berbarengan dengan membusurnya punggung Kika ke atas dan membanjirnya cairan vaginanya. Kika tergolek lemas membiarkan tubuhnya telentang di atas meja, sementara aku yang sudah memuncak birahiku segera membuka seluruh pakaianku dan duduk kembali di kursi dalam keadaan bugil.

"Wow …, besar sekali Mas …", kata Kika yang sudah turun dari meja dan melihat penisku menegang. "Buka bajumu deh Cik", kataku memerintah pelan. Kika yang memang penasaran ingin tahu semua serviceku, menurut saja dengan pelan-pelan membuka blousenya, rok mini dan terakhir BH-nya. Kembali terpampang pemandangan indah di hadapanku. Dalam posisi diam berdiri jelas sekali keindahan tubuhnya yang ramping dengan kulit yang putih bersih dan halus mulus. Kedua bukit dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya sempurna, ranum, bulat, padat dan tegak menantang. Putingnya kecil berwarna merah muda, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Aku menelan ludah memandangnya dan ingin segera kulumat seluruh tubuhnya.

Tanpa menunggu lama, kutarik tangannya ke arahku dan kusuruh Kika duduk di atas pegangan kursiku dengan menjepitkan kedua kakinya yang jenjang itu ke badanku. Kembali Kika hanya menurut sambil menunggu apa yang akan kulakukan. Posisi buah dadanya persis di depan wajahku, tapi aku belum mau ke sana. Kutundukkan kepalanya dulu dengan tanganku, dan kucium lembut bibirnya. Kumainkan lidahku di sepanjang bibirnya yang mungil sensual itu, lalu masuk ke dalam memilin-milin lidahnya dan keluar lagi memagut mulutnya dengan ganas. "mmmph … mmmm", erang Kika yang agak kaget namun menikmatinya, bahkan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Kesempatan ini kupergunakan dengan menurunkan tanganku kea rah dua bukit dadanya, dan langsung meremas serta memilin-milin putingnya yang mungil hingga terasa mengeras dan tegak di jari-jariku.

Kika menggeliat tak beraturan merasakan nikmat hingga tubuhnya ditegakkan ke belakang sambil melepas ciumanku. Kini kedua bukit dadanya yang ranum berada tepat di depan wajahku. Muncul ideku untuk bermain-main dulu dengan menciumi lehernya yang jenjang dan terus ke samping telinganya. Kika menggelinjang kegelian dan membuat hidung dan bibirku terus menjalar ke bahu lalu menerobos ke ketiaknya yang bersih dan tak berbulu itu. Di situ kuhirup sepuas-puasnya aroma ketiaknya yang khas dan alami. Saking gelinya, Kika mengatupkan lengannya hingga kepalaku terbenam di ketiaknya sampai aku sulit bernapas.

Setelah berhasil melepaskan diri, kugeser bibirku pelan-pelan beranjak ke arah bukit dadanya yang telah menunggu. Sambil kutahan kedua tangannya rapat ke samping tubuhnya, mulai kujelajahi dengan ciuman dan jilatan-jilatan dari bawah buah dadanya, terus kesamping lalu ke tengah di antara kedua bukitnya yang hangat dan licin oleh keringat. Kuselang-seling antara kecupan, gigitan dan hisapan di kulitnya yang lembut. Kika rupanya sudah tidak sabar menunggu bagian paling sensitifnya di bukitnya untuk kuservice.

"Ayo dong Maass …., isep, pleaaasee", pintanya sambil memindahkan posisi buah dada kanannya tepat di depan mulutku. Aku memang sengaja menggodanya dengan mendiamkannya sebentar sambil memandang keindahan putingnya yang mencuat mengeras itu. Pelan-pelan kupindahkan kedua tangannya menjulur ke depan berpegangan pada bagian atas senderan kursiku sehingga badannya lebih condong ke depan. Kusambut sodoran puting dadanya yang kanan dengan jilatan lidahku yang berputar mengitarinya, baru kemudian kujilat-jilat panjang persis orang makan ice cream. Kika menggelinjang hebat merasakan kenikmatannya, apalagi tanganku ikut bermain di puting dadanya yang kiri. Jilatanku kemudian berganti dengan hisapan-hisapan halus di kedua putingnya bergantian.

Goyangan badan Kika yang hebat itu membuat vaginanya beberapa kali menyentuh ujung penisku yang berdiri tegak tepat di bawahnya. Kika melonggarkan jepitan kakinya ke tubuhku sehingga pinggulnya bisa naik turun dengan bebas, dan "bluss ..", masuklah penisku ke lubang vaginanya yang telah basah, makin lama makin dalam bersamaan dengan rintihan Kika. "Eemmhh … ahh", rintih Kika sambil menggerakkan badanya yang ramping itu naik turun. Tangankupun tak tinggal diam dengan memegang bongkahan pantatnya yang bulat kenyal, dan membantu mengikuti gerakannya. Kadang kutahan pantatnya agar aku bisa bergantian menusuk penisku dari bawah sementara Kika pasif. Ini membuat Kika makin kuat mengerang nikmat, dan kembali dia mengambil inisiatif menggerakkan badannya yang makin lama makin cepat dan liar.

Sementara itu, buah dadanya yang terlepas dari mulutku nampak bergoyang-goyang dengan indahnya. Kudekatkan wajahku sehingga putingnya selalu bersentuhan dengan hidung atau bibirku setiap kali melewatinya. Kadang kujilat, kadang kutangkap putingnya lalu kusedot sebentar dan kulepas lagi. Kika keenakan, bahkan sengaja mencondongkan buah dadanya ke depan. Tangannya dijulurkan ke belakang pasrah, kakinya makin mengangkang, dan goyangannya makin menjadi. Tiba-tiba, "Aaaaggghhh ….", erang Kika keras bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dengan posisi kepalaku didekap erat di antara bukit dadanya.

Belum lagi Kika beristirahat, kusurh dia berdiri dan membalikkan tubuhnya kearah meja dengan tangan bertumpu pada pinggiran meja. Aku kemudian berdiri di belakangnya dan langsung meremas buah dadanya dari belakang, sementara mulutku mulai menjalar ke belakang telinganya dan tengkuknya. Kuhirup seluruh aroma belakang tubuhnya dengan hidungku bergantian dengan jilatan dan gigitan kecil. Sementara tangan kiriku terus meremas dan memilin putingnya dan bukit dadanya, tangan kananku menyusup ke vaginanya, sehingga Kika meronta-ronta kenikmatan merasakan tiga permainan sekaligus. Pantat Kika yang bergoyang-goyang ke sana ke mari membangkitkan birahi.

Tanpa menunggu lama lagi, kulepaskan semua pekerjaanku dan kugantikan dengan sodokan penisku yang masih menegang ke vaginanya. Kika menjerit kecil tidak menduga akan disodok dari belakang tiba-tiba, namun pasrah menikmati datanya nikmat baru, bahkan tanganku juga ditariknya menyusup ke buah dadanya. Sambil memompa penisku makin lama makin cepat, tanganku meremas dua bukitnya yang kenyal itu. Kika rupanya hampir mencapai klimaks lagi. "Mas … aku mau dapat lagi nih …, aku pengen dari depan aja yah …", kata Kika sambil merintih. Kontan kucabut penisku, dan membalikkan tubuhnya telentang di atas meja, dan langsung kumasukkan lagi ke lubangnya yang sudah basah itu. Kakinya mengangkang bebas memudahkan pinggulku memompa maju mundur sehingga terbenam seluruhnya yang membuat Kika menggelinjang setiap sodokan.

mrpoxpox1102652.jpg

mrpoxpox1102638.jpg


Ketika gerakanku makin cepat, Kika makin tak tahan dan memindahkan kakinya menjepit pinggangku. Vagina Kika menjadi semakin sempit, namun tak mengurangi genjotanku, sampai tiba-tiba, "uugghhh ,,,, ahhhh …", teriak Kika berbarengan dengan jepitan kakinya yang mengencang dan tubuhnya yang melengkung ke atas. Kubiarkan penisku yang masih kencang terbenam di vaginanya sampai pelan-pelan tubuhnya mengendur.

"Mas koq belum dapat juga sich …", lirih Kika sambil setengah duduk di meja.
"Aku mau keluarin di sini aja boleh nggak Ka?", tanyaku sambil menyentuh bibirnya yang mungil itu.

Mata Kika terbelalak tapi kemudian menyetujuinya dengan turun dari meja dan langsung berlutut di depanku. Kika rupanya ingin membalas service ku dengan mengoral penisku. Kika melakukannya dengan maksimal dan sepenuh hati, dengan bibirnya, lidahnya dan permainan sedotannya.
mrpoxpox1102550.jpg

mrpoxpox1102600.jpg


Perlakuan ini membuatku makin terangsang dan merasakan akan keluar. Dan …, "Aku keluar Ka … ugghh …", erangku bersamaan dengan semburan maniku ke mulutnya.

mrpoxpox1102627.jpg


Begitu selesai, aku dikagetkan dengan hisapan dan jilatan Kika, menyapu bersih seluruh mani yang keluar.

Aku kemudian mengangkat tubuhnya dan mengajak ke teras belakang untuk cari angin.
"Mau ngapain di teras Mas?", tanya Kika terheran-heran.
"Aku pengen menutup service plusku dengan mandiin kamu", kataku.
"Gimana mandiinnya?", tanya Kika bertambah heran tapi nurut saja ketika kurebahkan tuubuhnya di atas kursi panjang di teras belakang yang sepi itu. Tanpa menunggu lama, segera kuakhiri service plusku dengan mandi kucing, kujilat-jilat dan kukecup lembut seluruh tubuhnya yang tampak bertambah indah karena bermandikan matahari sore. Kika senang sekali dengan perlakuanku itu dan puas dengan seluruh service plusku, dan sambil mendesah kenikmatan dia berjanji akan sering-sering memanggilku, tentunya untuk minta dilayani dengan service plusku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar